Poelang Kampoeng

November 28, 2008

Ketika Organ Tubuh Diperdagangkan

Filed under: Pernak 'n Pernik - Administrator @ 1:14 am

Sumber: www.gatra.com

Dunia makin materialistis. Apa pun bisa diperdagangan, tak terkecuali organ tubuh manusia. Kini pasar gelap organ tubuh manusia bertebaran di pelbagai negara. Data yang dipublikasikan The China International Transplantation Network Assistance Center, Shenyang, Cina, mengungkapkan bahwa harga sebuah ginjal mencapai US$ 62.000.

Sedangkan jurnal kesehatan The Lancet menyebutkan, harga ginjal di pasaran mencapai US$ 15.000. Sepotong hati manusia dihargai US$ 130.000, sama dengan harga sebuah jantung. Sedangkan harga paru-paru bisa mencapai US$ 150.000. Tinggi-rendahnya harga organ tubuh manusia berjalan seirama dengan mekanisme pasar: makin besar permintaan, kian melabung pula harganya.

Diperkirakan jutaan orang mengantre untuk mendapatkan transplantasi organ tubuh, seperti jantung, ginjal, dan hati. Di Indonesia, diperkirakan ada 70.000 penderita gagal ginjal kronis yang membutuhkan cangkok ginjal. Di Jepang terdapat 11.000-an penderita gagal ginjal. Penyakit yang sama menjangkiti 66.000 warga Brasil. Semuanya membutuhkan cangkok ginjal.

Jumlah pasien itu tak sebanding dengan jumlah donor yang merelakan organnya dipakai orang lain setelah sang donor meninggal. Penduduk yang paling banyak bersedia menjadi donor ada di negara-negara Eropa, yang rata-rata 12% penduduknya memiliki kartu donor. Timpangnya jumlah permintaan organ tubuh dibandingkan dengan jumlah pasien inilah yang kemudian menyuburkan praktek ilegal jual-beli organ tubuh.

Modus jual-beli organ tubuh manusia itu sangat beragam. Ada yang menjual organ tubuh lantaran terdesak kebutuhan ekonomi. Banyak pula yang dilakukan dengan cara menipu sang donor. Bahkan ditengarai ada kasus pembunuhan dengan tujuan mengambil organ tubuh korban, kemudian dijual. Dua warga negara Indonesia, Sulaiman Damanik dan Toni, diadili di Sigapura karena kedapatan mengomersialkan organ tubuh mereka.

Sulaiman dan Toni menjual ginjal mereka kepada Tang Wee Sung, seorang Kepala Eksekutif CK Tang, sebuah jaringan supermarket besar di Singapura, seharga S$ 16.290 atau Rp 150 juta. Transaksi itu batal karena ketahuan oleh aparat.

Motif lain bisa lebih kejam lagi. Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta, misalnya, pernah melansir adanya motif pencurian organ tubuh lewat adopsi. Ada juga yang lewat jalur perdagangan manusia dengan membujuk anak-anak untuk bekerja di luar negeri secara ilegal, padahal sudah masuk dalam sindikat penjualan organ tubuh.

Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan pernah melansir dugaan praktek jual-beli bayi untuk dimanfaatkan organ tubuhnya. Bayi-bayi itu dijual Rp 3 juta-Rp 5 juta. Oleh si pembeli, bayi-bayi tersebut dipelihara hingga berusia tujuh tahun. Setelah beranjak remaja, kemudian mereka dibunuh dan organnya dijual hingga ratusan juta rupiah. Gila!

Data Lembaga Cegah Kriminal Indonesia (LCKI) mengungkapkan, kejahatan pada anak Indonesia meningkat menjadi nomor tiga di dunia. ‘’Kalau kita mendiamkannya, maka kita membiarkan masa depan bangsa ini hancur di tangan sindikat kriminalitas pada anak-anak,'’ kata Ketua LCKI, Da’i Bachtiar. Selain itu, para mafia jual-beli organ tubuh juga menggunakan modus memanfaatkan organ tubuh tenaga kerja Indonesia (TKI) yang meninggal di luar negeri.

Kasus ini pernah terjadi pada TKI asal Nusa Tenggara Barat yang meninggal di luar negeri. Sebelum ia dikembalikan ke kampung halamannya, sejumlah organ tubuhnya diambil. Sebenarnya ada perangkat hukum untuk menjerat pelaku kejahatan jual-beli organ tubuh itu, yakni Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Pasal 33 ayat (2) undang-undang itu menyebutkan, transplantasi organ dan atau jaringan tubuh serta transfusi darah dilakukan hanya untuk tujuan kemanusiaan dan dilarang untuk tujuan komersial.

Pelanggaran terhadap pasal itu diancam dengan hukuman penjara maksimal 15 tahun dan denda maksimal Rp 300 juta. Sayang, belum ada penjabaran jelas tentang apa yang dimaksud dengan kemanusiaan dan definisi komersialisasi itu. Karena itu, kebanyakan penegak hukum kesulitan melakukan penyidikan hukum atas kasus-kasus penjualan organ tubuh.

Apalagi, Pasal 34 ayat 3 undang-undang itu menyebutkan, ketentuan mengenai syarat dan tata cara penyelenggaraan transplantasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Namun, hingga kini, peraturan pemerintah itu tak juga dibuat. Aturan tentang transplantasi organ tubuh di Indonesia memang masih ketinggalan dari negara-negara lain.

Di Iran, misalnya, transplantasi dikoordinasikan oleh negara. Pemerintah mengampanyekan bahwa transplantasi itu boleh dilakukan dengan alasan kemanusiaan. Ini berlangsung sejak dilakukannya LURD (living unrelated donor) yang terkontrol pada 1988. Dari hanya 791 pasien tranplantasi ginjal pada 1988, meningkat hingga 8.399 pasien pada tahun 2000. Pemerintah menyediakan dana untuk biaya ganti rugi.

Kampanye ini terbukti berhasil. Dalam setahun, donor ginjal mencapai lebih dari 10.000 pasien. ‘’Ini merupakan fenomena yang menarik di dunia,'’ katanya. Tapi program ini hanya berlaku bagi warga Iran. ‘’Orang asing tidak diperkenankan ikut program ini,'’ kata Suhardjono, Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia.

Sementara itu, di negara-negara lain, soal trasplantasi diatur dengan Human Organ Transplant Act. ‘’Ini perlu untuk melindungi pasien, rakyat, dan petugas kesehatan,'’ ujar Suhardjono. Donor organ tubuh juga harus dilakukan dengan sukarela tanpa ada iming-iming uang. Dengan demikian, penyimpangan dan praktek ilegal jual-beli organ tubuh bisa diminimalkan.

Kita harus segera membuat aturan ketat soal ini. Selain itu, tentu pemerintah juga harus meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat agar tak nekat menjual organ tubuhnya hanya lantaran miskin.

November 19, 2008

“Yah, Ijinkan Kami Merawat Ibu…”

Filed under: Kisah dan hikmah - Administrator @ 7:14 am

Sumber: Story from www.perempuan.com 

Usia ayah kami memang tak lagi muda, namun di usianya yang semakin senja, ayah kami masih seperti dulu, bersemangat dan tak mengenal kata menyerah. Terlebih dalam memberi perhatian dan kasih sayang terhadap ibu kami. Aku adalah anak tertua dari empat bersaudara. Aku dan dua adikku telah berumah tangga dan tinggal terpisah dengan orang tua kami, namun begitu kami masih sering menyempatkan diri untuk menjenguk ayah dan ibu dan memberi sedikit bantuan untuk adik terkecil kami yang masih sekolah. Sejak melahirkan si bungsu, ibu kami mengalami kelumpuhan total, ia tak lagi bisa beraktivitas seperti sedikala, bahkan untuk berbicarapun ibu sudah tak sanggup lagi melakukannya. Kami sudah mencoba menyembuhkannya dengan berbagai cara, dari cara yang modern sampai pengobatan tradisional, namun semuanya tak menampakan hasil yang memuaskan dan selama ini ayah yang dengan sabar merawat ibu. Untunglah tempat bekerja ayah tak begitu jauh dari rumah sehingga ia selalu menyempatkan diri menengok ibu. Setiap hari ayah yang memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat ibu ke atas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya di depan TV supaya ibu tidak merasa kesepian. Walau ibu sudah tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat ibu tersenyum. Walaupun ibu hanya bisa memandang dan tidak bisa menanggapi, ayah sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda ibu setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan ayah lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat ibu bahkan sambil membesarkan kami keempat anaknya. Suatu saat kami bertiga dan keluarga menyempatkan diri untuk mengunjungi ayah dan ibu kami. Dan atas kesepakatan kami bertiga, aku bermaksud mengambil alih tugas ayah dalam merawat ibu. Dengan kalimat yg cukup hati-hati aku berkata, ”Yah kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat ayah merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir ayah, bahkan ayah tidak ijinkan kami menjaga ibu,” ujarku dengan bibir bergetar Dengan air mata berlinang aku melanjutkan kata-kata, “Sudah empat kali kami mengijinkan bapak menikah lagi. Kami rasa ibupun akan mengijinkannya. Kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini? Kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji akan merawat ibu bergantian.”

"Anak-anakku, jikalau hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin ayah akan menikah lagi. Tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di samping ayah, itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian…” Sejenak kerongkongannya tersekat. "Kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tak bisa dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu, apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini?"

"Kalian menginginkan ayah bahagia, apakah batin ayah bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang? Kalian menginginkan ayah yang masih diberi Allah kesehatan dirawat oleh orang lain bagaimana dengan ibumu yang masih sakit?" Sejenak meledaklah tangis dua adikku, sementara aku dengan susah payah menahan airmata ini agar tak menetes. Tetapi saat melihat ibu menitikan airmata, aku juga tak sanggup untuk tak menangis.  Dengan pilu ditatapnya mata ayah yang sangat dicintainya itu…

Sungguh kami semua tak mengerti bagaimana ayah bisa bertahan selama itu, dalam kesabaran dan menjaga rasa cintanya terhadap ibu yang saat ini tak lagi bisa memberikan apa-apa terhadap ayah. Sungguh kami tak akan pernah mengerti jika saja ayah dan melanjutkan tutur katanya yang lembut, kelembutan yang selama ini mampu membuat kami anak-anaknya bisa menikmati hidup yang maha indah ini.

“Nak, jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta, tapi dia tidak mencintai karena Allah semuanya akan luntur. Ayah memilih ibu kalian menjadi pendamping hidup ayah dan sewaktu ibu kalian sehat, ibu dengan sabar merawat ayah, mencintai ayah dengan hati dan batinnya bukan dengan mata. Dia memberi ayah anak-anak ayah yang hebat, anak-anak ayah yang membuat ayah mampu untuk terus menerus berjuang membesarkan kalian. Jika tak ada ibu, ayah pastikan kalianpun tak akan pernah ada.”

"Sekarang dia sakit karena berkorban untuk ayah dan karena Allah. Ini merupakan ujian bagi ayah. Sehatpun belum tentu ayah akan mencari penggantinya apalagi ibu sakit. Setiap malam ayah bersujud dan menangis dan ayah dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah. Ayah yakin hanya kepada Allah ayah percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia ayah, maka dari itu kalian tak perlu khawatir ayah tak bahagia.”

Kami semua akhirnya mengerti betapa kebahagiaan ayah tak akan pernah tergantikan dengan apapun selain bersama ibu. Ayah sudah cukup bahagia melihat kami anak-anaknya dapat hidup dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Itu terjadi karena ada ibu yang melahirkan kami semua dan mudah-mudahan kami semua dapat mengambil hikmah dan pelajaran yang sangat berarti ini untuk kami jadikan pedoman dalam membina keluarga yang harmonis seperti ayah dan ibu.

 

    

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King