“Yah, Ijinkan Kami Merawat Ibu…”
Sumber: Story from www.perempuan.com
Usia ayah kami memang tak lagi muda, namun di usianya yang semakin senja, ayah kami masih seperti dulu, bersemangat dan tak mengenal kata menyerah. Terlebih dalam memberi perhatian dan kasih sayang terhadap ibu kami. Aku adalah anak tertua dari empat bersaudara. Aku dan dua adikku telah berumah tangga dan tinggal terpisah dengan orang tua kami, namun begitu kami masih sering menyempatkan diri untuk menjenguk ayah dan ibu dan memberi sedikit bantuan untuk adik terkecil kami yang masih sekolah. Sejak melahirkan si bungsu, ibu kami mengalami kelumpuhan total, ia tak lagi bisa beraktivitas seperti sedikala, bahkan untuk berbicarapun ibu sudah tak sanggup lagi melakukannya. Kami sudah mencoba menyembuhkannya dengan berbagai cara, dari cara yang modern sampai pengobatan tradisional, namun semuanya tak menampakan hasil yang memuaskan dan selama ini ayah yang dengan sabar merawat ibu. Untunglah tempat bekerja ayah tak begitu jauh dari rumah sehingga ia selalu menyempatkan diri menengok ibu. Setiap hari ayah yang memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat ibu ke atas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya di depan TV supaya ibu tidak merasa kesepian. Walau ibu sudah tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat ibu tersenyum. Walaupun ibu hanya bisa memandang dan tidak bisa menanggapi, ayah sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda ibu setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan ayah lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat ibu bahkan sambil membesarkan kami keempat anaknya. Suatu saat kami bertiga dan keluarga menyempatkan diri untuk mengunjungi ayah dan ibu kami. Dan atas kesepakatan kami bertiga, aku bermaksud mengambil alih tugas ayah dalam merawat ibu. Dengan kalimat yg cukup hati-hati aku berkata, ”Yah kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat ayah merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir ayah, bahkan ayah tidak ijinkan kami menjaga ibu,” ujarku dengan bibir bergetar Dengan air mata berlinang aku melanjutkan kata-kata, “Sudah empat kali kami mengijinkan bapak menikah lagi. Kami rasa ibupun akan mengijinkannya. Kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini? Kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji akan merawat ibu bergantian.”
"Anak-anakku, jikalau hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin ayah akan menikah lagi. Tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di samping ayah, itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian…” Sejenak kerongkongannya tersekat. "Kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tak bisa dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu, apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini?"
"Kalian menginginkan ayah bahagia, apakah batin ayah bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang? Kalian menginginkan ayah yang masih diberi Allah kesehatan dirawat oleh orang lain bagaimana dengan ibumu yang masih sakit?" Sejenak meledaklah tangis dua adikku, sementara aku dengan susah payah menahan airmata ini agar tak menetes. Tetapi saat melihat ibu menitikan airmata, aku juga tak sanggup untuk tak menangis. Dengan pilu ditatapnya mata ayah yang sangat dicintainya itu…
Sungguh kami semua tak mengerti bagaimana ayah bisa bertahan selama itu, dalam kesabaran dan menjaga rasa cintanya terhadap ibu yang saat ini tak lagi bisa memberikan apa-apa terhadap ayah. Sungguh kami tak akan pernah mengerti jika saja ayah dan melanjutkan tutur katanya yang lembut, kelembutan yang selama ini mampu membuat kami anak-anaknya bisa menikmati hidup yang maha indah ini.
“Nak, jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta, tapi dia tidak mencintai karena Allah semuanya akan luntur. Ayah memilih ibu kalian menjadi pendamping hidup ayah dan sewaktu ibu kalian sehat, ibu dengan sabar merawat ayah, mencintai ayah dengan hati dan batinnya bukan dengan mata. Dia memberi ayah anak-anak ayah yang hebat, anak-anak ayah yang membuat ayah mampu untuk terus menerus berjuang membesarkan kalian. Jika tak ada ibu, ayah pastikan kalianpun tak akan pernah ada.”
"Sekarang dia sakit karena berkorban untuk ayah dan karena Allah. Ini merupakan ujian bagi ayah. Sehatpun belum tentu ayah akan mencari penggantinya apalagi ibu sakit. Setiap malam ayah bersujud dan menangis dan ayah dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah. Ayah yakin hanya kepada Allah ayah percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia ayah, maka dari itu kalian tak perlu khawatir ayah tak bahagia.”
Kami semua akhirnya mengerti betapa kebahagiaan ayah tak akan pernah tergantikan dengan apapun selain bersama ibu. Ayah sudah cukup bahagia melihat kami anak-anaknya dapat hidup dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Itu terjadi karena ada ibu yang melahirkan kami semua dan mudah-mudahan kami semua dapat mengambil hikmah dan pelajaran yang sangat berarti ini untuk kami jadikan pedoman dalam membina keluarga yang harmonis seperti ayah dan ibu.