Poelang Kampoeng

November 19, 2008

“Yah, Ijinkan Kami Merawat Ibu…”

Filed under: Kisah dan hikmah - Administrator @ 7:14 am

Sumber: Story from www.perempuan.com 

Usia ayah kami memang tak lagi muda, namun di usianya yang semakin senja, ayah kami masih seperti dulu, bersemangat dan tak mengenal kata menyerah. Terlebih dalam memberi perhatian dan kasih sayang terhadap ibu kami. Aku adalah anak tertua dari empat bersaudara. Aku dan dua adikku telah berumah tangga dan tinggal terpisah dengan orang tua kami, namun begitu kami masih sering menyempatkan diri untuk menjenguk ayah dan ibu dan memberi sedikit bantuan untuk adik terkecil kami yang masih sekolah. Sejak melahirkan si bungsu, ibu kami mengalami kelumpuhan total, ia tak lagi bisa beraktivitas seperti sedikala, bahkan untuk berbicarapun ibu sudah tak sanggup lagi melakukannya. Kami sudah mencoba menyembuhkannya dengan berbagai cara, dari cara yang modern sampai pengobatan tradisional, namun semuanya tak menampakan hasil yang memuaskan dan selama ini ayah yang dengan sabar merawat ibu. Untunglah tempat bekerja ayah tak begitu jauh dari rumah sehingga ia selalu menyempatkan diri menengok ibu. Setiap hari ayah yang memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat ibu ke atas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya di depan TV supaya ibu tidak merasa kesepian. Walau ibu sudah tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat ibu tersenyum. Walaupun ibu hanya bisa memandang dan tidak bisa menanggapi, ayah sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda ibu setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan ayah lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat ibu bahkan sambil membesarkan kami keempat anaknya. Suatu saat kami bertiga dan keluarga menyempatkan diri untuk mengunjungi ayah dan ibu kami. Dan atas kesepakatan kami bertiga, aku bermaksud mengambil alih tugas ayah dalam merawat ibu. Dengan kalimat yg cukup hati-hati aku berkata, ”Yah kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat ayah merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir ayah, bahkan ayah tidak ijinkan kami menjaga ibu,” ujarku dengan bibir bergetar Dengan air mata berlinang aku melanjutkan kata-kata, “Sudah empat kali kami mengijinkan bapak menikah lagi. Kami rasa ibupun akan mengijinkannya. Kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini? Kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji akan merawat ibu bergantian.”

"Anak-anakku, jikalau hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin ayah akan menikah lagi. Tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di samping ayah, itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian…” Sejenak kerongkongannya tersekat. "Kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tak bisa dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu, apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini?"

"Kalian menginginkan ayah bahagia, apakah batin ayah bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang? Kalian menginginkan ayah yang masih diberi Allah kesehatan dirawat oleh orang lain bagaimana dengan ibumu yang masih sakit?" Sejenak meledaklah tangis dua adikku, sementara aku dengan susah payah menahan airmata ini agar tak menetes. Tetapi saat melihat ibu menitikan airmata, aku juga tak sanggup untuk tak menangis.  Dengan pilu ditatapnya mata ayah yang sangat dicintainya itu…

Sungguh kami semua tak mengerti bagaimana ayah bisa bertahan selama itu, dalam kesabaran dan menjaga rasa cintanya terhadap ibu yang saat ini tak lagi bisa memberikan apa-apa terhadap ayah. Sungguh kami tak akan pernah mengerti jika saja ayah dan melanjutkan tutur katanya yang lembut, kelembutan yang selama ini mampu membuat kami anak-anaknya bisa menikmati hidup yang maha indah ini.

“Nak, jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta, tapi dia tidak mencintai karena Allah semuanya akan luntur. Ayah memilih ibu kalian menjadi pendamping hidup ayah dan sewaktu ibu kalian sehat, ibu dengan sabar merawat ayah, mencintai ayah dengan hati dan batinnya bukan dengan mata. Dia memberi ayah anak-anak ayah yang hebat, anak-anak ayah yang membuat ayah mampu untuk terus menerus berjuang membesarkan kalian. Jika tak ada ibu, ayah pastikan kalianpun tak akan pernah ada.”

"Sekarang dia sakit karena berkorban untuk ayah dan karena Allah. Ini merupakan ujian bagi ayah. Sehatpun belum tentu ayah akan mencari penggantinya apalagi ibu sakit. Setiap malam ayah bersujud dan menangis dan ayah dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah. Ayah yakin hanya kepada Allah ayah percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia ayah, maka dari itu kalian tak perlu khawatir ayah tak bahagia.”

Kami semua akhirnya mengerti betapa kebahagiaan ayah tak akan pernah tergantikan dengan apapun selain bersama ibu. Ayah sudah cukup bahagia melihat kami anak-anaknya dapat hidup dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Itu terjadi karena ada ibu yang melahirkan kami semua dan mudah-mudahan kami semua dapat mengambil hikmah dan pelajaran yang sangat berarti ini untuk kami jadikan pedoman dalam membina keluarga yang harmonis seperti ayah dan ibu.

 

March 19, 2008

Jangan Pernah Mengabaikan Orang yang Anda Kasihi

Filed under: Kisah dan hikmah - Administrator @ 3:50 am

Sumber: www.conectique.com 

Ini sebuah kisah nyata yang terjadi di Jepang. Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba merontokkan tembok. Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong di antara tembok yang terbuat dari kayu. Ketika tembok mulai rontok, dia menemukan seekor kadal terperangkap di antara ruang kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah paku. Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek paku itu, ternyata paku tersebut telah ada di situ 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun. Apa yang terjadi? Bagaimana kadal itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun?

Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikitpun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal. Orang itu lalu berpikir, bagaimana kadal itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada paku itu!

Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan kadal itu, apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan. Kemudian, tidak tahu darimana datangnya, seekor kadal lain muncul dengan makanan di mulutnya…astaga! !

Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor kadal lain yang selalu memperhatikan kadal yang terperangkap itu selama 10 tahun. Sungguh ini sebuah cinta…cinta yang indah. Cinta dapat terjadi bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor kadal itu. Apa yang dapat dilakukan oleh cinta? Tentu saja sebuah keajaiban. Bayangkan, kadal itu tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya selama 10 tahun. Bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu dapat memiliki karunia yang begitu mengagumkan. Saya tersentuh ketika mendengar cerita ini. Lalu saya mulai berpikir tentang hubungan yang terjalin antara keluarga, teman, saudara lelaki, saudara perempuan… ..


Saudaraku ….Berusahalah semampumu untuk tetap dekat dengan orang-orang yang Anda kasihi. JANGAN PERNAH MENGABAIKAN ORANG YANG ANDA KASIHI…!  Bagikan cerita ini kepada semua orang yang telah menyentuh hidup anda dan membuat anda bertumbuh, mengerti, dan memahami lebih dalam lagi tentang hidup. Bagikan cerita ini untuk semua orang. Semoga setiap orang dicintai.

March 17, 2008

Sebuah Doa Yang Baik

Filed under: Kisah dan hikmah - Administrator @ 2:00 am

Sumber: www.kebunhikmah.com

Suatu ketika, beberapa anak mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab, ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab, memang begitulah peraturannya.

Ada seorang anak bernama Ahmad. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Ahmad lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya.

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 "pembalap" kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya.

Namun, sesaat sebelum mulai, Ahmad meminta waktu sebentar untuk berdoa. Matanya terpejam, dengan tangan tang bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, "Ya, aku siap!".

Dor. Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing. "Ayo..ayo… cepat..cepat, maju..maju", begitu teriak mereka. Ahha…sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan, Ahmad lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Ahmad. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. "Alhamdulillah, terima kasih."

Saat pembagian piala tiba. Ahmad maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya. "Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Allah swt agar kamu menang, bukan?". Ahmad terdiam. "Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan" kata Ahmad.

Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Allah swt untuk menolongmu mengalahkan saudaramu yang lain. "Aku, hanya bermohon pada Allah swt, supaya aku tak menangis, jika aku kalah."
Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.

    next posts »»

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King