Poelang Kampoeng

February 2, 2007

Proyek Irigasi Baru Tak Dapat Difungsikan

Filed under: My Kampoeng - Administrator @ 5:58 am
Sumber: www.suaramerdeka.com
IRIGASI: Proyek baru bangunan saluran suplesi irigasi di Dusun Brangkalan Desa Jaten Kecamatan Selogiri Wonogiri, selesai dikerjakan tapi tidak dapat difungsikan. SM/Bambang Pur

Wonogiri, CyberNews. Proyek saluran suplesi irigasi baru yang dibangun di Dusun Brangkal Desa Jaten Kecamatan Selogiri Kabupaten Wonogiri ternyata tidak dapat difungsikan. Pasalnya, meski proyek bernilai Rp 330 juta itu telah selesai dikerjakan, tapi fungsi untuk mengalirkan air tidak sampai ke bagian ujung.

Para petani dari kelompok tani Sidomulyo Desa Jaten pimpinan Sularno, mengatakan, aliran airnya hanya tumpah di bagian pangkal saluran saja. Sehingga persawahan yang berada di ujung saluran terancam kekeringan. ‘’Penyebabnya, karena bagian ujung lebih meninggi, sehingga airnya ’sumbang’ (tidak dapat mengalir),'’ ujar Manto Baladewa, sesepuh tani Desa Jaten.

Menurut petani, proyek itu dikerjakan oleh pemborong Kentut dari CV Damar Jaya Batuwarno. Saluran suplesi irigasi ini memiliki ukuran panjang 800 meter. Terdiri atas sepanjang 100 meter berkonstruksi saluran terbuka, dan sisanya dibangun secara tertutup. Saluran itu mengambil air baku dari aliran air Bendung Colo. Diharapkan dapat memberikan oncoran pada areal sawah petani seluas 36 bahu (12 Ha).

‘’Sejak awal dari Gapok (Gabung Kelompok Tani) sebenarnya sudah mengingatkan, tapi pihak pelaksananya tidak menghiraukan, dan proses pekerjaan terus dilakukan sampai selesai. Tapi akhirnya tidak dapat berfungsi,'’ ujar anggota DPRD Wonogiri Samino SIP yang bermukim di Selogiri.

Kentut yang dikonfirmasi para wartawan, mengelak dengan menyatakan bukan dirinya yang mengerjakan. Komisi C DPRD Wonogiri pimpinan Setyo Sukarno, yang melakukan inspeksi ke lokasi, merekomendasikan agar proyek itu dibongkar dan dikerjakan ulang, agar dapat memberikan fungsi untuk pengairan persawahan petani.

Kabag Pembangunan Pemkab Wonogiri Drs H Rusdiharjo dan Kepala DPU Ir Sudaryanto MM, menegaskan, pengerjaan ulang proyek itu akan dilakukan pihak pemborongnya pada musim kemarau mendatang. Hal ini agar tidak mengganggu jadwal tanam yang sekarang berlangsung.

Kepala Sub Dinas Pengairan Wonogiri H Gatot Haryadi ST didampingi Kasi Teknis Heru ST MT, menyatakan, terjadi kesalahan teknis dalam melakukan penggalian saluran. Mestinya untuk bagian ujung sedalam 3,5 meter, tapi kenyataannya kurang 0,4 meter. Hal ini yang menjadikan air tidak dapat mengalir sampai ujung, dan menyebabkan saluran itu tidak dapat memberikan fungsi sebagaimana yang diharapkan.

January 23, 2007

PKD Sari Mulya Ds. Purwosari, Wonogiri ini PKD apa Puskesmas?

Filed under: My Kampoeng - Administrator @ 1:13 am

Sumber: www.health-lrc.or.id
Poliklinik Kesehatan Desa Letaknya di bagian timur Kabupaten Wonogiri, di Desa Purwosari. Sejak tahun 1991 berdiri sebuah bangunan berdampingan dengan Kantor Kepala Desa Purwosari. Orang-orang mengenalnya dengan Polindes (Pos Bersalin Desa) SARI MULYA. Merupakan Polindes pertama yang ada di Wonogiri. Ketika itu bangunannya sangat sedehana, ukuran bangunannyapun tidak lebih dari 12 m2. Tapi walaupun demikian tidak mengurangi minat ibu-ibu hamil datang mengunjunginya untuk pemeriksaan kehamilan. Karena Polindes Sari Mulya satu-satunya tempat pelayanan kesehatan terdekat di Desa Purwosari, Puskesmas terdekat jaraknya lebih dari 5 Km.

PKD Sari Mulya Ds. Purwosari, Wonogiri ini PKD apa Puskesmas?

Letaknya di bagian timur Kabupaten Wonogiri, di Desa Purwosari. Sejak tahun 1991 berdiri sebuah bangunan berdampingan dengan Kantor Kepala Desa Purwosari. Orang-orang mengenalnya dengan Polindes (Pos Bersalin Desa) SARI MULYA. Merupakan Polindes pertama yang ada di Wonogiri. Ketika itu bangunannya sangat sedehana, ukuran bangunannyapun tidak lebih dari 12 m2. Tapi walaupun demikian tidak mengurangi minat ibu-ibu hamil datang mengunjunginya untuk pemeriksaan kehamilan. Karena Polindes Sari Mulya satu-satunya tempat pelayanan kesehatan terdekat di Desa Purwosari, Puskesmas terdekat jaraknya lebih dari 5 Km.

Sejak bulan Mei tahun 2004, penampilan Polindes ini berubah sama sekali. Namanya tidak lagi Polindes tetapi telah meningkat menjadi PKD alias POLIKLINIK KESEHATAN DESA “SARI MULYA”. Kalau dahulu pelayanan lebih banyak untuk ibu-ibu hamil, tetapi setelah menjadi Poliklinik Kesehatan Desa, sasarannya menjadi tidak terbatas ibu hamil saja tetapi semua kalangan masyarakat Desa Purwosari. Bukan hanya nama saja yang berubah, gedungnya pun demikian. Ukuran bangunannya mejadi lebih dari 50 m2, dengan 6 kamar rawat tinggal. Kalau orang tidak tahu, pasti akan mengatakan Puskesmas atau pustu.

Setelah mendapatkan bantuan Gubernur Jawa Tengah tahun 2004 sebesar 10 juta rupiah, Kepala Desa Purwosari, Bapak Iskandar, segera menindaklanjuti untuk memperbaiki gedung PKD. Kebetulan waktu itu ada kabar, akan ada kunjungan dari Ibu Presiden Megawati ke Desa Purwosari. Alhasil berkat perjuangan Bapak Kepala Desa, sebuah bangunan di dekat kantor kepala desa yang dahulu digunakan sebagai tempat pertemuan, disulap menjadi PKD. Tidak cukup hanya itu, Bapak Kades harus mengeluarkan kas desa sebesar 3 juta rupiah. Karena mengejar waktu, perbaikan gedung PKD pun hanya berlangsung hanya 3 hari. Kata pak Kades seperti “Bandung Bondowoso saja”. Walaupun akhirnya Ibu Megawati tidak jadi berkunjung, tapi hikmahnya gedung PKD Desa Purwosari telah berdiri megah dengan peralatan yang komplit.

Suwarti begitu namanya, bidan yang mengelola PKD Sari Mulya. Berpenampilan sederhana dengan menggunakan kerudung, Sejak tahun 1991, setelah selesai mengikuti sekolah Program Pendidikan Bidan di Pekalongan, ibu tiga orang putra ini langsung di tempatkan di Desa Purwosari sebagai Bidan Desa. Berkat pengabdian dan kerjanya yang tidak kenal lelah, tahun 1993 mendapat penghargaan sebagai bidan teladan se Kab.Wonogiri.

Sekarang, Ibu Bidan Suwati dengan PKD-nya siap melayani masyarakat Desa Purwosari setiap hari mulai jam 07.00 – 13.00. Itu jam resmi, diluar jam tersebut jika ada penduduk yang butuh pertolongan, ia pasti akan menerima dengan senang hati. Tarif berobatnya sama dengan Puskesmas, hanya ditambah 500 rupiah untuk kas desa, jadi semuanya 3000 rupiah.

Ibu Bidan Suwati tidak bekerja sendiri, ia dibantu seorang tenaga administrasi untuk kelancaran pekerjaannya. Kalau tidak pasti ia akan kewalahan. Karena setiap bulan rata-rata ada 300 pasien yang datang ke PKD, berarti rata-rata 10 orang tiap hari. Ditambah lagi 6-7 orang untuk pertolongan persalinan, yang rata-rata hari menginap selama 5 hari. Ibu Suwati dapat bekerja dengan baik juga atas binaan yang tak kenal lelah dari Ibu dr. Tri Rahayu Sutandi, Kepala Puskesmas Wonogiri I. Yang salah satu wilayah kerjanya berada di desa Purwosari. Puskesmas disamping memberikan binaan juga memberikan bantuan kelengkapan tempat tidur dan mebeleir PKD, ujar ibu dr. Tri Rahayu Sutadi. Sehingga penampilannya fisiknya tidak kalah dengan Pusekesmas.
Setelah ada PKD, masyarakat desa Purwosari sekarang tidak ada lagi yang meminta bantuan persalinan ke dukun. Hampir semuanya sekarang ke PKD, ditambah lagi PKD sari mulyo berada di pinggir jalan raya yang mudah dijangkau masyarakat, kata Bapak Kades Iskandar. Beliau berharap agar dengan adanya PKD Sari Mulya, masyarakat desa Purwosari akan lebih meningkat derajat kesehatannya. Tidak lupa berharap bimbingan dari Propinsi untuk lebih meningkatkan pelayanan kesehatan PKD Sari Mulya. (AN, AG)

January 19, 2007

Tanaman Pangan Kekeringan di Kab.Wonogiri

Filed under: My Kampoeng - Administrator @ 2:59 am

Sumber: www.jawatengah.go.id

Ratusan hektare (Ha) tanaman pangan di 10 desa di Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri terancam kekeringan. Ini merupakan kejadian ironis, mengingat kemunculan kasus kekeringan tanaman pangan justru berlangsung di musim penghujan.

Sejumlah petani di Kecamatan Selogiri mengatakan, ancaman kekeringan terjadi karena sudah sekitar 10 hari terakhir ini tidak turun hujan.

‘’Padahal semaian bibit padi sudah terlanjur ditanam di sawah. Akibatnya bibit tersebut sekarang layu dan mengering,'’ keluh Joko, petani di Desa Jetak, Kecamatan Selogiri.

Keluhan sama dikemukakan petani Warso, Mikun dan Ny Sinah di Desa Pare, Kecamatan Selogiri. Mereka meratapi nasibnya, menyusul ketika mendapati kenyataan tanaman padinya mengering, setelah dalam sepuluh hari terakhir ini tidak turun hujan.

Tak hanya tanaman padi yang terancam kekeringan. Tanaman palawija seperti jagung dan kacang tanah.

Kepala Dinas Pertanian Wonogiri Ir Guruh Santosa didampingi Kasubdin Bimas Tanaman Pangan Ir Karno, menyatakan heran terhadap fenomena alam sekarang ini. Pasalnya saat musim rendengan justru hujannya menghilang. Mestinya, di bulan Januari seperti sekarang ini air melimpah karena hujan sedang deras-derasnya.

Camat Selogiri Drs Bambang Haryanto, Selasa (9/1), melaporka seluas 917 Ha tanaman pangan di Selogiri terancam kekeringan. Untuk menyikapi resiko terburuk, pihaknya memohon Pemkab memberikan bantuan benih, untuk kelak dapat dipakai tanam ulang.Cyber

    next posts »»

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King