Poelang Kampoeng

January 16, 2007

FPKS Wonogiri: Tolak Uang Rapelan Anggota Dewan

Filed under: My Kampoeng - Administrator @ 9:11 am

PK-Sejahtera Online (www.pk-sejahtera.org)

Ketua FPKS DPRD Wonogiri Hamid Noor Yasin, menyerukan kepada seluruh anggota FPKS untuk mengembalikan dana rapelan tersebut.

Menindaklanjuti instruksi dari Presiden PKS Tifatul Sembiring, yang menyerukan agar mengembalikan tunjangan rapelan anggota DPRD, FPKS Wonogiri mematuhi intruksi tersebut.

Ketua FPKS DPRD Wonogiri Hamid Noor Yasin, menyerukan kepada seluruh anggota FPKS untuk mengembalikan dana rapelan tersebut (14/1)

Kepada pers Hamid mengatakan, menyambut baik intruksi Presiden PKS, mengingat masih banyak masyarakat Indonesia yang hidup di bawah garis Kemiskinan.

Untuk menindaklanjuti instruksi ini, FPKS berniat menggandeng elemen
struktural partainya bersama-sama komponen LSM dan wartawan untuk
memantau penyaluran dana tersebut kepada rakyat miskin dan masyarakat yang
membutuhkan.

Di lembaga legislatif Wonogiri, FKPS memiliki empat orang anggota dari 45 anggota dewan.

January 4, 2007

Wonogiri: Surga Para Olahragawan

Filed under: My Kampoeng - Administrator @ 2:52 am


Waduk Gajah Mungkur TEMPAT YANG TEPAT - Waduk Gajah Mungkur merupakan tempat yang tepat bagi pecinta olahraga udara

Kawasan Waduk Gajah Mungkur Wonogiri bisa menjadi objek wisata alternatif di kawasan Solo. Di kawasan waduk yang dibangun zaman Orde Baru ini, sekarang telah menjadi lokasi wisata air dan udara, sekaligus lokasi olahraga. Untuk mencapainya, wisatawan membutuhkan 2-3 jam perjalanan, walau hanya berjarak 40 kilometer arah tenggara Solo karena jalannya yang sempit dab berkelok-kelok terjal.

Di Gajah Mungkur, kegiatan keudaraan sudah terlihat sejak awal tahun 1980-an. Awalnya dibangun sebuah lokasi peluncuran untuk cabang olahraga gantole. Era itu, gantole memang sedang memasuki masa keemasan. Bahkan tahun 1994, sesaat sebelum kejuaraan gantole internasional berlangsung, lokasi peluncuran lain dibangun lagi.

Menurut para atlet olahraga udara, Wonogiri ­begitu mereka menyebut Gajah Mungkur sebagai lahan latihan terbaik di Indonesia. "Di sini orang bisa terbang setiap hari sepanjang tahun. Masa-masa paling indah adalah ketika musim kemarau," ujar mereka. Pada musim hujan, mereka pun terkadang terbang. Biasanya mereka terbang pada pagi hari. "Begitu melihat awan hujan mulai bergumpal-gumpal, itu tandanya kita mesti turun," jelas mereka.


Kawasan Wonogiri KAWASAN WONOGIRI - Para atlet olahraga udara menyebutnya kawasan Wonogiri, yang semarak oleh gantole dan paralayang

Salah satu daya tariknya adalah termal yang terbilang fantastis. Melayang dari Bukit Joglo, yang berada pada ketinggian sekitar 400 meter dari permukaan laut, atau melesat dari lokasi peluncuran lain yang lebih rendah, sekitar 180 meter dari permukaan laut, maniak olahraga langsung bisa merasakan nikmatnya terbang. Dari salah satu lokasi itu, olahragawan bisa melayang berjam-jam menggunakan gantole atau paralayang.

Kondisi inilah yang kemudian menempatkan Waduk Gajah Mungkur sebagai surga para olahragawan gantole dan paralayang. Bagaimana tidak, di lokasi ini, seorang penerbang gantole pernah terbang selama delapan jam, yang sekaligus tercatat sebagai pemegang rekor nasional terbang gantole paling lama.

Wisatawan awam pun boleh-boleh saja ikut terbang. Para tandem master gantole dan paralayang siap mengajak wisatawan untuk menikmati surga mereka itu. Walau saat ini masih belum ada setiap saat. "Untuk wisata keudaraan itu, kami memang belum menanganinya. Belum ada," kata M. Ali Muhadi.

Sumber: www.angkasa-online.com 

January 3, 2007

Kabupaten Wonogiri

Filed under: My Kampoeng - Administrator @ 3:23 am

Diambil dari: situs kompas

ALAM menempa kehidupan. Tandusnya lahan pertanian bukan berarti harus menyerah kalah. Bahkan, dari kegersangan muncul keuletan untuk menyiasati hidup. Sebagian penduduk Wonogiri merantau mencoba berusaha ke berbagai daerah di Indonesia. Hasilnya, sebagian dari mereka mampu ikut mempercantik wajah kabupaten yang sering dicap daerah minus itu.

PENDUDUK yang ke luar daerah mencari penghidupan yang lebih baik, oleh masyarakat disebut boro, kependekan dari nglemboro, yang artinya mengembara. Mereka meninggalkan daerahnya sementara waktu dan datang kembali silih berganti tanpa mengenal kata putus.

Menurut data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Wonogiri tahun 2001 rata-rata 83.425 penduduk yang boro setiap bulan, di mana 53,4 persen pria. Bila dibanding jumlah penduduk 1,1 juta jiwa, setiap bulan 7,46 persen penduduk boro. Pada bulan Desember 2002, 110.404 orang meninggalkan Wonogiri, terbanyak dari Kecamatan Girimarto (9.020 orang), kemudian Kecamatan Sidoharjo (8.819 orang), Nguntoronadi (8.635 orang), dan Selogiri (8.284 orang). Sebagian besar dari mereka berusaha di sektor informal menjadi pedagang bakso, jamu gendong, pedagang mi dan nasi goreng. Keuletan dan ketabahan mereka menghasilkan rumah -rumah tembok berdinding keramik di antara jalan-jalan desa yang terbuat dari semen dan aspal.

Berapa banyak uang yang mengalir ke Wonogiri dari para boro tersebut? Kiriman wesel pos ke Wonogiri bulan Januari dan Februari 2002 tercatat masing-masing Rp 1,7 milyar. Tata Pemerintahan Kabupaten Wonogiri pada bulan Desember 2002 mencatat uang yang dikirim dari 1.493 penduduk boro melalui BRI dan BNI dari luar negeri Rp 7,1 milyar. Rata-rata Rp 4,8 juta per orang. Kiriman tersebut datang dari Singapura, Malaysia, Hongkong, Jepang, Amerika Serikat (AS), Belanda, Swedia, Arab Saudi dan negara lain. Jumlah pengirim paling banyak dari Malaysia 1.084 orang, AS 137 orang, dan Singapura 132 orang.

Karena besarnya pundi-pundi yang dibawa pulang para boro tersebut, tak heran sambutan terhadap mereka menjadi lain. Setiap Idul Fitri, sebagian besar boro yang pulang kampung disambut tak ubahnya pahlawan. Di jalan-jalan utama terpampang spanduk ucapan selamat datang.

Tingginya mobilitas penduduk mendorong munculnya perusahaan angkutan penumpang. Di kabupaten yang tampak bersih dan ditunjang jalan-jalan yang mulus ini pada tahun 2001 terdapat 23 perusahaan bus antarkota dalam provinsi dengan 254 armada, 24 perusahaan bus antarprovinsi dengan 689 armada. Juga terdapat 81 perusahaan mini bus angkutan pedesaan dengan 574 unit kendaraan dan 64 perusahaan angkutan kota dengan 85 unit kendaraan. Kontribusi sektor pengangkutan dan komunikasi bagi Kabupaten Wonogiri sebesar Rp 229,8 milyar atau 10,2 persen dari total kegiatan ekonomi.

Penopang utama perekonomian kabupaten adalah pertanian tanaman pangan. Tahun 2001 sumbangannya Rp 1 trilyun dari Rp 1,2 trilyun sumbangan sektor pertanian. Total kegiatan ekonomi Rp 2,2 trilyun. Besarnya peran pertanian bisa dimengerti mengingat setengah dari luas wilayah Wonogiri merupakan sawah (312 kilometer persegi) dan tegalan (600 kilometer persegi).

Meskipun kontribusi industri pengolahan 5,6 persen, olahan hasil bumi kabupaten yang pendapatan per kapitanya tahun 2002 sekitar Rp 2,2 juta ini, mampu menembus mancanegara. Tahun 2001, dari ekspor dihasilkan Rp 161,8 milyar. Paling besar didapat dari kacang mete Rp 126,3 milyar yang dikirim ke Brunei, Singapura, dan Malaysia. Kemudian gaplek yang diekspor ke Cina senilai Rp 14,3 milyar. Mebel kayu yang diminati Belanda, Australia, dan Perancis nilainya Rp 11,6 milyar.

Di samping itu, masih terdapat komoditas janggelan, minyak daun cengkeh, tapioka, kerajinan rotan, dan pupuk organik, yang diekspor ke Taiwan, Korea Selatan, Jerman, Belanda, Belgia, dan Jepang.

Menyebut Wonogiri kurang lengkap tanpa menyinggung Waduk Gajah Mungkur. Diresmikan tahun 1981, waduk yang pembuatannya menenggelamkan 51 desa itu merupakan andalan wisata daerah. Terletak enam kilometer di barat daya Kota Wonogiri, waduk ini selain menawarkan wisata air, juga dipakai untuk olahraga gantole dan paralayang. Konon ada dua lokasi terbaik di dunia untuk olehraga paralayang. Salah satunya, ya kawasan Gunung Gajah Mungkur ini.

Petani Wonogiri memanfaatkan waduk bukan untuk menanam padi, tapi "menanam" (memelihara) ikan. Air Waduk Gajah Mungkur tidak bisa dialirkan ke wilayah bagian selatan kabupaten karena letaknya lebih rendah. Keberadaan waduk ini justru menguntungkan pertanian Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar. Hasil perikanan Wonogiri tahun 2001 sekitar 823 ton, turun drastis dibanding dengan tahun sebelumnya 3.302 ton.

Pendangkalan waduk, yang prosesnya tergolong cepat, dituding sebagai penyebab merosotnya produksi perikanan. Pepohonan di wilayah tangkapan air di sekitar waduk yang semakin gundul diyakini sebagai penyebabnya. Rencananya, pemerintah kabupaten akan mengeruk waduk tersebut dengan bantuan dana dari Pemerintah Jepang. Yang tidak kalah penting adalah penghijauan kembali wilayah tangkapan air di sekitar waduk.

«« previous posts    next posts »»

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King