Diambil dari: situs kompas
ALAM menempa kehidupan. Tandusnya lahan pertanian bukan berarti harus menyerah kalah. Bahkan, dari kegersangan muncul keuletan untuk menyiasati hidup. Sebagian penduduk Wonogiri merantau mencoba berusaha ke berbagai daerah di Indonesia. Hasilnya, sebagian dari mereka mampu ikut mempercantik wajah kabupaten yang sering dicap daerah minus itu.
PENDUDUK yang ke luar daerah mencari penghidupan yang lebih baik, oleh masyarakat disebut boro, kependekan dari nglemboro, yang artinya mengembara. Mereka meninggalkan daerahnya sementara waktu dan datang kembali silih berganti tanpa mengenal kata putus.
Menurut data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Wonogiri tahun 2001 rata-rata 83.425 penduduk yang boro setiap bulan, di mana 53,4 persen pria. Bila dibanding jumlah penduduk 1,1 juta jiwa, setiap bulan 7,46 persen penduduk boro. Pada bulan Desember 2002, 110.404 orang meninggalkan Wonogiri, terbanyak dari Kecamatan Girimarto (9.020 orang), kemudian Kecamatan Sidoharjo (8.819 orang), Nguntoronadi (8.635 orang), dan Selogiri (8.284 orang). Sebagian besar dari mereka berusaha di sektor informal menjadi pedagang bakso, jamu gendong, pedagang mi dan nasi goreng. Keuletan dan ketabahan mereka menghasilkan rumah -rumah tembok berdinding keramik di antara jalan-jalan desa yang terbuat dari semen dan aspal.
Berapa banyak uang yang mengalir ke Wonogiri dari para boro tersebut? Kiriman wesel pos ke Wonogiri bulan Januari dan Februari 2002 tercatat masing-masing Rp 1,7 milyar. Tata Pemerintahan Kabupaten Wonogiri pada bulan Desember 2002 mencatat uang yang dikirim dari 1.493 penduduk boro melalui BRI dan BNI dari luar negeri Rp 7,1 milyar. Rata-rata Rp 4,8 juta per orang. Kiriman tersebut datang dari Singapura, Malaysia, Hongkong, Jepang, Amerika Serikat (AS), Belanda, Swedia, Arab Saudi dan negara lain. Jumlah pengirim paling banyak dari Malaysia 1.084 orang, AS 137 orang, dan Singapura 132 orang.
Karena besarnya pundi-pundi yang dibawa pulang para boro tersebut, tak heran sambutan terhadap mereka menjadi lain. Setiap Idul Fitri, sebagian besar boro yang pulang kampung disambut tak ubahnya pahlawan. Di jalan-jalan utama terpampang spanduk ucapan selamat datang.
Tingginya mobilitas penduduk mendorong munculnya perusahaan angkutan penumpang. Di kabupaten yang tampak bersih dan ditunjang jalan-jalan yang mulus ini pada tahun 2001 terdapat 23 perusahaan bus antarkota dalam provinsi dengan 254 armada, 24 perusahaan bus antarprovinsi dengan 689 armada. Juga terdapat 81 perusahaan mini bus angkutan pedesaan dengan 574 unit kendaraan dan 64 perusahaan angkutan kota dengan 85 unit kendaraan. Kontribusi sektor pengangkutan dan komunikasi bagi Kabupaten Wonogiri sebesar Rp 229,8 milyar atau 10,2 persen dari total kegiatan ekonomi.
Penopang utama perekonomian kabupaten adalah pertanian tanaman pangan. Tahun 2001 sumbangannya Rp 1 trilyun dari Rp 1,2 trilyun sumbangan sektor pertanian. Total kegiatan ekonomi Rp 2,2 trilyun. Besarnya peran pertanian bisa dimengerti mengingat setengah dari luas wilayah Wonogiri merupakan sawah (312 kilometer persegi) dan tegalan (600 kilometer persegi).
Meskipun kontribusi industri pengolahan 5,6 persen, olahan hasil bumi kabupaten yang pendapatan per kapitanya tahun 2002 sekitar Rp 2,2 juta ini, mampu menembus mancanegara. Tahun 2001, dari ekspor dihasilkan Rp 161,8 milyar. Paling besar didapat dari kacang mete Rp 126,3 milyar yang dikirim ke Brunei, Singapura, dan Malaysia. Kemudian gaplek yang diekspor ke Cina senilai Rp 14,3 milyar. Mebel kayu yang diminati Belanda, Australia, dan Perancis nilainya Rp 11,6 milyar.
Di samping itu, masih terdapat komoditas janggelan, minyak daun cengkeh, tapioka, kerajinan rotan, dan pupuk organik, yang diekspor ke Taiwan, Korea Selatan, Jerman, Belanda, Belgia, dan Jepang.
Menyebut Wonogiri kurang lengkap tanpa menyinggung Waduk Gajah Mungkur. Diresmikan tahun 1981, waduk yang pembuatannya menenggelamkan 51 desa itu merupakan andalan wisata daerah. Terletak enam kilometer di barat daya Kota Wonogiri, waduk ini selain menawarkan wisata air, juga dipakai untuk olahraga gantole dan paralayang. Konon ada dua lokasi terbaik di dunia untuk olehraga paralayang. Salah satunya, ya kawasan Gunung Gajah Mungkur ini.
Petani Wonogiri memanfaatkan waduk bukan untuk menanam padi, tapi "menanam" (memelihara) ikan. Air Waduk Gajah Mungkur tidak bisa dialirkan ke wilayah bagian selatan kabupaten karena letaknya lebih rendah. Keberadaan waduk ini justru menguntungkan pertanian Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar. Hasil perikanan Wonogiri tahun 2001 sekitar 823 ton, turun drastis dibanding dengan tahun sebelumnya 3.302 ton.
Pendangkalan waduk, yang prosesnya tergolong cepat, dituding sebagai penyebab merosotnya produksi perikanan. Pepohonan di wilayah tangkapan air di sekitar waduk yang semakin gundul diyakini sebagai penyebabnya. Rencananya, pemerintah kabupaten akan mengeruk waduk tersebut dengan bantuan dana dari Pemerintah Jepang. Yang tidak kalah penting adalah penghijauan kembali wilayah tangkapan air di sekitar waduk.